Tingkatkan Kontrol Diri, Hindari Lapar Mata

Leave a comment

obesitas_LH

Ada dua masalah gizi utama di negara berkembang seperti Indonesia. Gizi buruk dan obesitas. Menurut Riskesdas (2013), prevalensi obesitas di Indonesia adalah 26,6%, lebih tinggi dari tahun 2007 (18,8%). Angka tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat masalah obesitas tak kalah serius disbanding kurang gizi. Obesitas adalah kondisi yang kompleks karena tak hanya mencerminkan status kesehatan, melainkan juga budaya, kebiasaan, pola hidup, dan pendidikan di suatu negara.

Sebenarnya apa sih obesitas? Obesitas adalah kondisi yang disebabkan oleh penyimpanan lemak yang berlebihan dalam tubuh (Columbia University). Seseorang dikatakan obesitas bila memiliki BMI (Body Mass Index) > 27, baik untuk laki-laki maupun perempuan (Depkes RI). Sebenarnya, obesitas adalah kondisi yang dapat diperbaiki. Namun, apa salahnya mencegah sebelum tubuh kita menjadi berisiko terhadap penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan banyak lagi? Mari simak beberapa cara mencegah obesitas berikut.

Obesitas adalah tanggung jawab masyarakat luas. Obesitas adalah tanggung jawab pemerintah sebagai pembuat kebijakan (perizinan, distribusi makanan, dll). Obesitas adalah tanggung jawab para pengusaha yang selalu gencar mengiklankan produk-produknya (terutama produk makanan dan minuman) untuk kepentingan perusahaan.

Obesitas adalah tanggung jawab masyarakat sekitar. Persepsi mereka terhadap orang yang bertubuh gemuk sangat memengaruhi persepsi seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Di tempat di mana masyarakat menganggap orang gemuk sebagai simbol kemakmuran, maka orang akan tertarik untuk menjadi gemuk. Sementara jika masyarakat menganggap gemuk sebagai kondisi yang buruk, orang akan berusaha memiliki postur tubuh ideal.

Semua itu berpengaruh terhadap angka kejadian obesitas di suatu negara. Namun sejatinya, diri sendiri yang mampu mencegah kondisi tersebut terjadi terhadap tubuh kita. Kita perlu melakukan kontrol diri agar tidak lapar mata. Apa itu kontrol diri? Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh lighthouse, menurut Tara (2016), kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengendalikan dorongan (impuls), keinginan , emosi, atau hasrat tertentu yang kurang tepat untuk diri sendiri ataupun untuk mencapai tujuan yang lebih baik.

Kontrol diri dapat dilakukan 4 cara (disingkat KAOS) berikut:

  1. Kalori
tabel kalori

tabel kalori

Pengetahuan tentang gizi sangat penting. Kita harus tahu berapa kalori yang kita butuhkan dan sudah kita dapatkan hari ini. Sudah banyak website yang menampilkan tabel kalori tiap jenis makanan, misal kalori dari sepotong tempe, sepiring nasi, dll. Jadi, tak ada alasan untuk tidak tahu apakah menu dan porsi sarapan kita sudah memenuhi kalori yang kita butuhkan pagi ini. Jumlah kalori harus cukup, bukan kurang maupun berlebih. Kalau bisa, cetak tabel kalori itu dan bawa kemana pun Anda pergi. Setelah mengetahui, langkah selanjutnya adalah disiplin. Jangan sekali pun melanggarnya.

  1. Air putih dan yoghurt

air dan yoghurt

Minum air putih 10-20 menit sebelum makan akan menjaga porsi makan kita tetap stabil. Hal ini karena tubuh sudah merasa kenyang dengan konsumsi air tersebut. Lagipula kita memang dianjurkan mengonsumsi banyak air putih, kecuali bagi mereka yang memiliki masalah ginjal. Sedangkan, yoghurt mengandung banyak protein yang dapat membuat kita merasa kenyang dalam waktu lama sehingga dapat mengendalikan nafsu makan.

  1. Olahraga dan aktivitas lain

tenis

Olahraga dapat membakar lemak dalam tubuh kita. Selain itu, carilah kegiatan lain yang bermanfaat. Hal ini untuk membuat Anda lupa terhadap makan dan menyibukkan diri sehingga Anda tak memiliki sekian banyak waktu luang untuk makan. Seperti yang kita tahu, lambung manusia sangat ‘fleksibel’. Meski kebutuhan kalori telah tercukupi dan kondisi lambung sudah penuh, bila kita melihat makanan enak, lambung akan menekan makanan yang ada di dalam sehingga membuat ruang kosong lagi di sana. Ini membuat kita ‘seolah’ masih lapar. Jadi, tips saya hindari kegiatan atau tempat-tempat yang berpotensi menggoda nafsu makan Anda.

  1. Stabilkan perasaan

Beberapa riset menunjukkan bahwa dalam emosi yang labil, kita cenderung merasa lapar dan makan tak terkendali. Maka, kita dianjurkan untuk menjaga emosi. Berusahalah untuk selalu tenang dan bahagia. Bahagia itu penting. Secara biologis, ada 2 hormon yang memengaruhi suasana hati seseorang. Dopamine dan serotonin. Jika kadar hormon tersebut tinggi, diyakini pikiran akan lebih tenang dan stabil. Beberapa makanan dengan kadar dopamine dan serotonin yang tinggi yaitu ikan, pisang, dan cokelat. Konsumsilah ‘makanan pembahagia’ tersebut. Saya lebih menyarankan Anda mengonsumsi ikan dan pisang karena cokelat mengandung gula yang cukup banyak. Sebenarnya tak apa mengonsumsi cokelat, asal dalam porsi wajar.

makanan pembahagia

Dalam seminar yang diadakan oleh lighthouse, kita juga disadarkan bahwa kontrol diri akan mengajarkan kita beberapa sikap penting berikut:

  1. Sadar diri bahwa tak semua yang kita inginkan harus didapatkan.
  2. Berpikir matang dalam setiaap tindakan.
  3. Fokus dan berpikir jauh ke depan, tak hanya mementingkan kesenangan saat ini yang biasanya bersifat semu.
  4. Mampu beradaptasi dalam segala situasi.

Nah, alangkah kerennya jika kita dapat mengontrol diri sendiri. Saya sangat mengerti bahwa itu bukan hal yang mudah. Oleh karenanya, kita dapat memulai dengan bantuan pihak lain, seperti bantuan dari klinik lighthouse. Lighthouse adalah klinik pengaturan berat badan yang telah teruji lebih dari 11 tahun. Bersama tenaga-tenaga yang handal (dokter spesialis, ahli gizi, psikolog, dll), Anda akan dibantu menjalankan program komprehensif untuk menurunkan berat badan. Yang pasti, program di sini mudah diikuti sehingga tidak terasa terlalu berat, tapi juga sangat efektif hasilnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang klinik lighthouse, Anda bisa klik lightHOUSE Indonesia.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Selamat berjuang mengidealkan berat badan Anda. Semoga berhasil.

KISAH SEORANG MUSAFIR DAN LILIN KECIL (Karya: Desy Trilistyoati)

Leave a comment

Malam ini hanya ada sebatang lilin kecil di sampingku

Menemani dengan setia dalam gelap

Malam ini beribu tanya mendesak benakku

Ke mana perginya sang rembulan?

Yang senantiasa membawa harapan bagi sang pemimpi

Dan memberi tujuan bagi para musafir

 

Aku terdiam menatap lilin yang perlahan membakar dirinya

“Mungkin hanya ini yang tersisa,” pikirku

Gemerlap telah berganti remang

Dapatkah cahaya remang ini menuntunku?

Ataukah harus kuberlari dan mencari

Di mana sang rembulan bersembunyi?

 

Bisakah aku percaya pada sebatang lilin

Yang kecil, ringkih, dan bahkan tak mampu melindungi dirinya sendiri?

Dapatkah aku bersandar pada sebuah harapan yang buram?

Dapatkah aku berjalan pada jalan setapak yang bercabang-cabang?

Ke mana aku harus membawa diriku?

Sanggupkah kau menuntunku, lilin kecil?

 

Aku tak begitu yakin dengan cahayanya

Namun hanya lilin itu yang tersisa

Di kala sang rembulan berada terlampau jauh di atas sana

Aku tahu cahayanya begitu tulus

Namun maaf bila aku masih ingin mengejar gemerlap malam

Karena mataku telah begitu rabun dan tak mampu melihat dalam remang-remang

Leave a comment

gambar logo 6

Giveaway Hop BBI 2014

Leave a comment

Bagi yang suka membaca, wajib membaca link di bawah ini. Ada giveaway menarik yang bisa diikuti. Lumayanlah sebagai tambahan koleksi buku.
Ayo semarakkan gerakan Indonesia Cinta Membaca! Ingatlah selalu bahwa bangsa yang besar berasal dari generasi muda yang cinta membaca └(^o^)┘

Giveaway Hop BBI 2014.

Di Penghujung Harapan (Karya: Desy Trilistyoati)

Leave a comment

Semesta terbentang luas di antara kita

Semesta terbentang luas di antara kita

Senja kala itu
Aku berdiri terpaku menatap cakrawala
Yang terbentang luas, begitu nyata, tanpa ujung dan pangkal
Pada suatu senja aku berdoa
Agar Tuhan memudarkan garis cakrawala itu
Sebab cakrawala selalu mengusik ingatanku
Akan adanya sebuah batas yang tak mampu kutembus
Ada begitu besar jarak terbentang di antara kita
Entah ribuan, jutaan, atau bahkan milyaran mil
Mungkin hanya keajaiban yang mampu membawaku padamu

Setiap kali kulihat awan bergerak berarakan
Aku selalu melihat serta senyummu di sana
Seolah berkata, ‘lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?’
Di sini, di belahan bumi tempatku berdiri
Tak ada yang dapat kulakukan
Selain menatap jutaan bintang di langit malam
Berharap satu di antaranya jatuh di hadapanku
Membawa serta dirimu
Dan segenap anganku bersamamu

Balada Tinta Hitam

Leave a comment

Di sana…
Di sudut ruangan itu
Bersembunyi sekotak tinta hitam
Yang telah mengering, usang, dan terlupakan
Tinta hitam yang telah berhenti
Menoreh keagungan di atas lembaran kertas putih Tinta hitam yang tak pernah lagi
Memikat umat manusia dengan kisahnya yang indah
Seindah kenangan yang kini memudar

Dahulu…
Sekotak tinta hitam pernah menaklukkan dunia
Dengan kisah perjuangannya
Yang menyulut api dalam jiwa setiap insan yang mendengarnya
Ini bukan kisah sekotak tinta emas
Hanya tinta hitam si tinta sejuta umat
Yang merajut asa, mengejar gemerlap dunia
Namun kini ia hanyut dan hilang dalam kilau lampu kota

Ingatkah engkau…
Sekotak tinta hitam pernah menorehkan tintanya dalam sejarah
Tinta hitam dengan berjuta cerita
Yang pernah sejenak memukau jagad raya
Hingga ombak berhenti bergulung untuk sekadar mendengar
Kisah-kisah ajaibnya
Namun kini tak satu pun sudi mendengar
Kisah tragis yang ditorehkannya

Satin Putih ( Bagian 1 ) – Oleh: Desy Trilistyoati

Leave a comment

Awalnya kupikir dunia ini telah dipenuhi oleh manusia-manusia egois. Generasi terakhir yang bergerak menuntun dunia menuju ambang kehancuran. Konon katanya hanya dalam hitungan detik, kita akan melihat sebuah dunia yang benar-benar baru. Dunia yang berbanding terbalik dengan dunia yang kukenal dulu begitu damai dan bertaburan cinta kasih.

Kata mereka bumi ini sudah tak layak lagi menyandang gelar ‘hunian ideal’ bagi manusia. Akhir-akhir ini banyak suara yang mengeluh kegerahan. Kata mereka bumi ini sudah penuh sesak oleh manusia-manusia egois yang selalu merasa dirinya paling benar, paling suci, tak bercela noda setitik pun. Tetapi aku percaya, masih ada secercah cahaya terang di tengah kelamnya dunia.

            Namanya Taka, kami berteman akrab sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Tetapi aku tidak tahu latar belakang keluarganya dengan jelas. Lagipula ia selalu mengelak untuk bercerita. Hanya satu hal yang kutahu tentang Taka, bahwa ia seorang Jepang yang bermigrasi ke Indonesia. Aku dan Taka bagaikan bayi kembar siam yang selalu melekat erat satu sama lain. Semasa sekolah kami selalu mengikuti kegiatan yang sama, selalu berada dalam kelas yang sama, bahkan selalu duduk dalam satu bangku. Meski begitu aku tak pernah bosan bertemu dengannya, menyapanya setiap pagi, juga berbagi cerita dengannya sepanjang hari.

            Setiap orang yang pernah berjumpa dengan Taka, pasti akan menilai Taka sebagai pribadi yang ceria dan penuh semangat. Dia seolah tak pernah berhenti tertawa. Tetapi hanya akulah, orang terdekatnya, yang selalu memperhatikan satu rutinitasnya yang mungkin terlewat dari pengamatan orang lain. Tentu saja tak seorang pun mampu menerkanya. Rutinitas itu hanya melibatkan sepersekian detik dari 86.400 detik waktunya dalam sehari. Rutinitas itu hanya mengubah mimik wajahnya dalam sekelebat, perubahan yang tak mungkin disadari oleh orang-orang yang hanya mampir sejenak dalam hidupnya. Tetapi aku telah mengarungi bertahun-tahun hidupku di sisinya, jadi aku dapat melihatnya. Bahwa ada saat-saat tertentu ketika Taka tampak begitu terbebani. Entah oleh apa.

            “Sahabat, ceritakanlah padaku apa yang selama ini merisaukanmu?”

            Ia tergelak, kemudian berkata, “Sudah kuduga. Suatu hari kamu pasti akan menyadarinya dan menanyakannya padaku. Dan kini, hari itu telah tiba. Tahukah kamu bahwa tidak ada yang lebih merisaukanku daripada noda-noda itu?”

            “Noda-noda itu? Noda apa?”

            Taka tak pernah menjawabnya. Bertahun-tahun ia membiarkanku hidup dengan dibayangi tanda tanya besar tentangnya, juga perihal noda-noda yang tak kumengerti itu. Sejak saat itu aku melihat Taka seperti sebuah pohon besar dengan begitu banyak ranting bertumpu padanya. Rumit. Misterius. Sejak saat itu pula aku merasa ia mulai bergerak menjauh menuju alam yang tak kukenali.

 

            Pada suatu siang yang terik, aku dan Taka duduk di halte untuk menunggu bus kota yang setia mengantar kami pulang ke dalam pelukan keluarga tercinta.

            Hening berbahasa. Tak satu pun kata terucap. Aku dan Taka telah bermetamorfosis menjadi dua orang asing. Dua orang asing yang selalu duduk berdua di halte. Dua orang asing dalam satu kelas. Dua orang asing yang masih sering berbicara, namun tak lagi saling mengenal. Dalam hati aku meronta, menginginkan persahabatan itu hadir kembali. Akan tetapi musim penghujan telah menjelma kemarau. Sedangkan harapanku tak kunjung mewujud nyata. Kupikir Taka, sahabat kecilku yang ceria, telah tiada.

            Aku teringat tujuh tahun yang lalu, di halte ini juga, aku dan Taka duduk berdua. Segalanya sama, kecuali seragam putih merah yang kala itu melekat di tubuh kami yang mungil. Kala itu aku tengah meniup cairan sabun yang mampu menghasilkan gelembung-gelembung udara yang beterbangan di sekeliling kami. Taka kecil berlari-lari mencoba meraih gelembung-gelembung itu. Aku tidak pernah lupa binar-binar di mata sipitnya yang kini tidak pernah lagi kujumpai.

            “Alangkah menyenangkan jika aku tercipta sebagai gelembung-gelembung ini. Mereka sangat ringan seolah tanpa beban, juga bening seolah tanpa dosa,” ujar Taka yang masih berlari mengejar gelembung-gelembung itu.

            “Kalau begitu suatu hari aku akan membuat satu gelembung yang sangat besar untuk kamu naiki di dalamnya. Agar kamu tahu bagaimana rasanya menjadi gelembung udara,” janjiku.

            Dua tahun setelah siang itu, di siang yang sama, di halte yang sama pula, aku dan Taka kembali berbicara soal gelembung. Segalanya sama, kecuali seragam putih biru yang kini membalut tubuh kami yang beranjak remaja, juga pola pikir kami yang mulai berubah.

POTONGAN NOVEL ‘PIANIS’ by: Desy Trilistyoati (Gramedia Pustaka Utama’s Writing Project-Romance)

Leave a comment

(Annabel)

            “Raph, coba tebak apa yang kubawakan hari ini?” Raphael hanya tergeleng lemah di ranjangnya. Semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. “Tadaaa…this is a special gift for you.” Kuberikan padanya sebuah buku bersampul putih berjudul Little Heaven. Raphael tersenyum puas.

            “Ini…ini kado…terindah seumur…hidupku,” ujarnya terbata-bata, sementara aku sekuat tenaga menahan air mata yang memaksa turun.

            “Aku bisa membacakannya setiap hari beberapa lembar untukmu.”

            Raphael menggeleng sekali lagi, “Tidak perlu. Mungkin…tidak akan…sempat. Tapi sebenarnya…kamu…terlambat. Aku sudah…tahu…ceritanya…sejak dulu…” kata-katanya tak membuatku terkejut. Ternyata tebakanku benar bahwa Raphael yang mengirimkan naskah itu.

            “Terima kasih Raph, terima kasih atas segala sesuatu yang telah kau lakukan untukku. Nah, sekarang tidurlah. Aku tahu kamu lelah,” kurapikan selimut yang membalut tubuhnya yang mengecil seperti bayi itu. Perlahan matanya terpejam. “I love you, my little heaven.”

            “Love you…too,” ujarnya dengan mata terpejam. Jika dulu ia yang senantiasa mengecup keningku, kini giliranku untuk melakukannya.

            Setelah Raphael tertidur pulas, aku beranjak menuju meja kerjanya dan duduk di sana. Sejak seminggu yang lalu Raphael bersikeras untuk pulang. Ia sudah muak dengan suasana rumah sakit. Kuperhatikan sekeliling kamar bernuansa coklat ini. Benar kata Raphael, warna coklat selalu memberi kehangatan tersendiri. Apalagi saat ini. Aku merasa melebur dengan kehangatan bersama Raphael sepenuhnya. Kini tak ada lagi rasa bersalah pada Farhan. Aku merasa bebas. Bagai burung yang terbang tanpa pengawasan.

            Kuperhatikan rak-rak buku yang menghiasi kamar Raphael. Aku mengenali salah satu buku yang turut berdiri anggun di tengah barisan buku-buku mengenai musik itu. Buku harian milik Raphael. Sejak dulu aku ingin sekali membuka buku ini, tapi tak pernah ada kesempatan, karena Raphael selalu malu jika buku hariannya dibaca orang lain.

            Tulisan Raphael yang bagaikan cakar ayam itu memenuhi lembar demi lembarnya. Tulisan tangan yang tak pernah berubah sejak kecil. Berbagai pemikiran Raphael megenai musik terpapar jelas di sana. Aku tahu ia mencintai musik, tapi tak pernah menyangka sebegitu besar kecintaannya pada musik.

 

Diary,

            Jika ada hal lain yang kupuja di dunia ini di bawah kecintaanku pada Sang Pencipta, maka itulah gambaran kecintaanku pada musik. Aku tak mengerti bagaimana caranya seseorang bertahan hidup tanpa musik. Omong kosong bila ada orang yang mengatakan bahwa ia tak menyukai musik. Aku berani bertaruh bahwa tak ada orang yang dapat menahan hasrat tubuhnya untuk bergoyang dan bergumam ketika mendengar alunan nada-nada nan indah.

            Terlebih diriku. Music just like painting what inside me. Music is my soul and be a pianist is my dream. Aku takkan membiarkan segala sesuatu menghalangi kecintaanku ini. Mungkin ini juga yang membuatku berani mengambil resiko sebesar ini. Aku lebih baik meninggalkan keluargaku, daripada meninggalkan impianku untuk terus bermain piano sepanjang aku masih mampu bernafas…

 

Ada cerita mengenai cinta pertamanya, yaitu aku. Tersipu aku membaca segala pujiannya tentang diriku. Hanya Raphael yang memandangku berbeda dari orang lain. Mungkin jika aku tak pernah mengenalnya, aku akan selalu menjadi pribadi yang lemah dan selalu pesimis.

 

Diary,

Kalau saja dia bertanya sejak kapan aku mulai menganggapnya ‘seseorang’ yang berbeda di hatiku, maka jawabannya adalah ketika aku pertama kali melihat seorang bocah perempuan yang kabur dari mobil ayahnya hanya untuk membolos sekolah. Saat itu aku menganggapnya sebagai orang aneh. Haha…di saat orang lain berharap untuk dapat bersekolah, dia malah ingin bolos sekolah. Dan saat itu seorang bocah perempuan telah mengajarkanku satu hal yang sangat penting, bahwa tidak semua orang memiliki sudut pandang yang sama denganku. Maka aku tak boleh memaksakan kehendakku pada orang lain. Terima kasih ya, hai gadis unikku.

Mau dengar sesuatu yang lebih baik? Ya, sebenarnya kamu teramat sangat cantik di mataku. Kamu hanya perlu merubah sikap pesimis itu, maka kamu akan menjadi sosok perempuan yang sempurna di mataku dan di mata orang lain.

 

Dan ada satu tulisan di lembar terakhir. Dari tanggalnya aku tahu bahwa ia menulisnya baru-baru ini. Sekitar sebulan yang lalu.

 

Dear Diary,

Untuk pertama kali dalam hidup ini aku merasa iri dengan kehidupan orang lain. Ini jelas bukanlah seorang Andrea Raphael yang selama ini kukenal. Aku tahu bahwa dalam hidup ini tiap orang memiliki porsinya masing-masing. Dan akupun tahu bahwa aku telah memiliki kehidupan yang luar biasa indah, lebih dari sempurna. Tapi entahlah, mengapa saat ini aku merasa iri dengan orang-orang di luar sana yang masih bisa memandang masa depan mereka dengan optimis.

            Ini hal yang manusiawi. Ketika seseorang hendak menuju ke sesuatu yang baru, hal-hal yang lamapun mendadak akan datang silih berganti memenuhi memori. Seperti yang kualami saat ini. Ketika aku hendak menuju ke kehidupan yang baru, aku mulai melihat kembali ke belakang.

            When we talk about yesterday, there was so much I can tell you. Ketika aku menengok ke belakang, kulihat sosok lelaki gagah nan rupawan yang diidolakan kaum hawa. Ya, itulah aku, sebelum aku yang sekarang dengan tubuh ringkih tak berdaya. Alangkah bahagia masa-masa di mana aku masih sanggup duduk dan bermain piano sesuka hati. Tuhan, aku ingin bisa berlari mengejar bus seperti dulu lagi. Aku rindu berjalan-jalan menghirup udara segar di luar sana, menyaksikan bunga-bunga bermekaran di musim semi bersama orang-orang tercinta.

            When we talk about yesterday, there was a lot of memories. Hidup adalah rangkaian dari potongan-potongan puzzle. Tak terasa mungkin sebentar lagi aku akan menyelesaikan puzzleku. Ketika melihat kembali ke serpihan-serpihan itu, ada banyak kisah di sana. Oh, betapa aku pernah tidur beralaskan koran di bawah jembatan, aku pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga terbaik satu-satunya yang kumiliki. Aku memiliki seorang sahabat yang senantiasa menemani hingga akhir hayatku. Aku pernah mengalami banyak kegagalan sebelum menemui satu keberhasilan, ketika dunia akhirnya mengukir namaku dalam sejarahnya. Rasanya tak percaya semua itu telah kulalui. Tapi mengapa masa lalu harus berlalu?

            When we talk about yesterday, it was the greatest time of my life. Satu lagi hebatnya masa lalu. Kapan lagi aku bisa merayakan ulang tahunku? Andaikan doraemon tak hanya robot fiksi, tentu aku akan pergi ke masa lalu menggunakan mesin waktunya. Hahaha… Alangkah bahagianya…

Dear diary, kurasa ini kali terakhir aku menyentuhmu. Maaf bila kita harus berpisah lebih cepat dari yang pernah kita pikirkan. Aku pasti akan sangat merindukan segalanya. Selamat jalan semuanya, sampai jumpa di lain kesempatan.

               

            Kututup buku harian milik lelaki yang kini tengah tergolek lemah di hadapanku. Setiap kali aku melihat matanya terpejam, aku selalu takut bila lelaki itu mungkin saja tidak akan membuka matanya lagi. Aku belum siap untuk menutup fase kehidupanku bersamanya.

POTONGAN NOVEL ‘BIRU’ by: Desy Trilistyoati (Gramedia Pustaka Utama’s Writing Project)

Leave a comment

(Adinda)

            Lelaki bertubuh tegap itu menggenggam erat pergelangan tanganku, menggiringku menuju sebuah tempat yang tak asing lagi bagiku. Ia menggiringku menuju pesisir, kami berdua berdiri tepat di tepi laut lepas. Mendengarkan suara-suara ombak yang menyakiti karang. Sesungguhnya aku tak begitu suka pergi ke laut. Tetapi sepertinya lelaki di sebelahku ini begitu menikmati panorama laut.

            “Mengapa kamu mengajak saya kemari, Meneer?” tanyaku penasaran.

            “Memangnya kenapa? Kau takut lautan?” lelaki itu balik bertanya, seketika mata birunya yang tajam itu beralih menatap mataku.

            “Bukannya takut. Hanya saja saya tidak begitu suka lautan.”

            “Mengapa tidak suka? Bukankah ini indah?” lelaki itu semakin mendekat, kini jarak pandang kami hanya terpaut beberapa senti.

            “Saya pikir suara ombak itu menyeramkan.”

            “Mengapa menyeramkan?” kini ia menatapku heran. Ah, lelaki bangsawan ini hanya terus bertanya tanpa berniat menjawab pertanyaan awalku. Andaikan aku tidak berhutang budi pada kaum penjajah satu ini, aku tidak mungkin terperangkap dalam situasi yang menjengahkan seperti saat ini.

            “Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”

            “Jawab dulu pertanyaanku, baru kujawab pertanyaanmu.”

            “Saya pikir suara ombak itu menyeramkan. Saya seperti mendengar amukan jahat ombak-ombak yang mengempas karang. Entahlah, tapi saya selalu merasa ada aura kejahatan di sekitar laut,” jelasku, memutuskan mengalah. Lelaki itu hanya terdiam mendengar jawabanku, lalu ia beralih menatap lautan di hadapannya.

            “Aku hanya ingin memperlihatkan padamu semua ini,” jawab lelaki itu pada akhirnya sambil merentangkan kedua tangannya. Tatapannya lurus ke depan. Ada kabut yang aneh membayangi bola matanya. Kabut yang sama dengan ketika pertama kali aku berjumpa dengannya.

            “Bukankah setiap malam juga saya melewati tempat ini untuk menuju rumah Pakdhe?”

            “Kamu hanya melewati, tapi tidak singgah. Sejenak saja kamu tidak pernah singgah dan mengamati lautan bukan? Kamu selalu terburu-buru dalam setiap langkahmu. Entah apa yang sedang kau buru itu,” jawabnya, membuatku tergelak.

            Sudah kuduga dari awal. Lelaki angkuh yang tengah memperhatikanku dari samping secara diam-diam ini, pasti juga selalu mengamatiku dalam kegiatan sehari-hariku. Aku sadar, mungkin lelaki ini begitu menginginkanku dan akan mengusahakan apapun untuknya. Namun aku tidak yakin ia benar-benar mencintaiku.

            “Kamu suka lautan?” tanyaku.

            “Aku terlahir dengan nama Robbin Van Der Blauwe. Tahu apa artinya?” ia balas bertanya, sementara aku hanya menggeleng. “Dalam bahasa Inggris itu seperti Robbin of The Blue. Dari nama saya saja sudah melukiskan hubungan saya dengan laut biru ini,” jelasnya.

            Aku mengangguk, tersenyum memahami arti dari namanya. Nama adalah doa. Aku percaya bahwa orang tua Robbin, atau siapapun yang memberinya nama itu, pasti mengharapkan Robbin untuk memiliki kedekatan yang intim terhadap lautan.

            “Mama yang memberiku nama indah itu. Beliau adalah pecinta lautan,” ujar Robbin tiba-tiba. Ia seperti dapat membaca pikiranku.

            “Saya pikir kamu memiliki phobia terhadap laut? Ternyata apa yang dikatakan orang-orang tentangmu selama ini itu salah ya. Tampaknya kamu sangat menikmati ini semua.”

            “Dulu memang begitu. Dulu sekali…lautan pernah menjadi sebagian dari diriku… Ah, sudahlah. Kau bilang ingin membuat dongeng tentang kerajaan di dasar laut?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Bagaimana bisa pembaca memahami ceritamu apabila penulisnya saja tidak bisa memahami lautan dengan baik?” ujarnya sambil menebarkan senyum yang begitu manis. Membuatku tak dapat memungkiri, bahwa untuk sesaat ia membuatku tersipu.

            “Oh jadi itu maksudnya mengajak saya kemari? Berusaha mendekatkan saya dengan lautan dan menunjukkan segala sisi indahnya?”

            “Ya. Karena aku mengharapkan sebuah kisah yang indah mengalir dalam penamu.”

            “Terima kasih, Meneer. Tapi tidak perlu mempedulikan saya hingga seperti ini.”

            “Mengapa?” kembali ia menatap mataku dengan sebuah tatapan pedih yang tidak mampu kulukiskan dengan kata-kata. “Kamu tidak menginginkan perhatian dariku?” tanyanya lirih.

            “Baiklah. Mulai detik ini saya akan mencoba mencintai lautan, seperti dulu ia pernah menjadi sebagian dari dirimu,” jawabku dengan merasa sedikit bersalah atas perkataanku sebelumnya.

            Lelaki itu tersenyum. Diambilnya segenggam pasir dan dilemparkannya ke tengah buih-buih ombak di lautan. Sekali lagi ia melakukan hal yang sama. Membuatku terheran-heran dan mau tak mau terpaksa tersenyum mengamati tingkahnya. Merasa diamati, lelaki itupun menghentikan kesibukannya bermain-main dengan pasir. Seketika ia tertawa begitu lepas. Sejujurnya baru kali ini aku melihat Sang Jenderal tampak begitu ceria.

            “Pernah dengar yang namanya euphoria?”

            “Kesenangan berlebihan yang ditimbulkan oleh suatu hal.”

            “Dulu aku selalu merasakan euphoria setiap berada di dekat laut. Tapi itu tak lagi terjadi dalam belasan tahun ini. Yah, kecuali saat ini, untuk pertama kalinya aku merasakan euphoria terhadap lautan itu lagi. Bersamamu di sini,” ia terdiam agak lama sebelum kembali berkata, “Semoga bersamamu aku bisa mencandu lautan lagi seperti dahulu kala.”

            Lelaki itupun merebahkan dirinya di pasir putih nan lembut bersahabat, memejamkan matanya. Aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Namun aku merasakan sebuah harapan besar tersimpan dalam maknanya.

            “Ada satu puisi klasik favoritku. Puisi yang mengisahkan kedekatan seorang pelaut dengan lautan. Menurutku dalam stanza pertama puisi itu mengisahkan seorang lelaki yang baru saja pensiun sebagai pelaut. Namun ia terus merindukan berdiri di balik kemudi untuk dapat menyaksikan indahnya lautan.”

            “Lalu?” aku mulai dibuatnya penasaran.

            “Si lelaki itu bahkan dapat merasa bahagia hanya dengan menyaksikan lautan. Hingga waktu berlalu dan mendekati dinding kematiannya, lelaki itu tetap bahagia hanya dengan terus berputar dalam cerita tentang hari-harinya yang indah di tengah lautan, dulu saat ia masih seorang pelaut. Puisi ini bagiku mengisahkan euphoria yang dirasakan sang pelaut terhadap dalamnya lautan yang dulu senantiasa menemani harinya.”

            Lelaki itu lalu menyenandungkan sesuatu. Mungkin puisi yang dikisahkannya tadi.

                                                                                                        

            I must go down to the seas again, to the lonely sea and the sky

            And all I ask is a tall ship and a star to steer her by

            And the wheel’s kick and the wind’s song and the white sail’s shaking

            And a grey mist on the sea face, and a grey dawn breaking

 

            I must go down to the seas again, for the call of the running tide

            Is a wild call and a clear call that may not be denied

            And all I ask is a windy day with the white clouds flying

            And the flung spray and the blown spume and the sea gulls crying

 

            I must go down to the seas again, to the vagrant gypsy life

            To the gull’s way and the whale’s way where the wind’s like a whetted knife

            And all I ask is a merry yarn from a laughing fellow rover

            And quiet sleep and a sweet dream when the long trick’s over

 

            Aku termenung meresapi kata demi kata. Meskipun aku hanya dapat memahami sebagian maknanya, namun aku dapat merasakan kecintaan yang mendalam yang hendak disampaikan oleh sang penulis. Ah, begitulah seorang penulis yang hebat. Kelak aku harus menjadi seperti itu.

            Kuamati lelaki yang tengah bersantai di sebelahku. Sesungguhnya ia adalah sosok yang nyaris sempurna. Rahangnya yang tegas, mata birunya yang tajam, membuatnya semakin rupawan. Seandainya ia bisa menghilangkan sifat-sifat buruknya itu. Seandainya ia bisa berlaku manis seperti ini kepada orang lain. Seandainya ia bukanlah kaum penjajah yang amat kubenci…

            “Ehm, boleh saya tahu apa yang terjadi antara kamu dan lautan sekarang? Dari semua yang kudengar tadi, sepertinya kamu memendam sesuatu…” tanyaku berhati-hati.

            “Maaf, tapi aku belum bisa menceritakannya pada siapapun. Ada sesuatu dari masa laluku yang belum bisa kujelaskan,” jawabnya lirih.

Lelaki itu kembali menatap laut lepas dengan tatapan hampa. Kabut itu kembali menyelinap di bola matanya. Diambilnya lagi segenggam pasir dan dilemparkannya ke tengah ombak yang seketika melahapnya. Entah mengapa hari ini seorang Robbin memberiku banyak kejutan tak terduga.

Sang Pemuja Kebebasan ( bagian 1 )

Leave a comment

Aku berlari. Aku berlari dan terus berlari sekencang-kencangnya. Aku berlomba-lomba dengan embusan angin dan putaran waktu. Aku terus berlari menembus belantara hutan, tak menghiraukan bumi yang mungkin merintih kesakitan karena pijakanku yang amat menekan, tak lagi mendengarkan nyanyian riang burung-burung yang mengiringiku. Aku berlari amat kencang hingga kurasa kakiku tak lagi berpijak ke bumi. Aku berlari amat kencang hingga nyaris tak lagi merasakan gravitasi yang selalu menarikku jatuh dan memberi berat pada tubuhku. Aku berlari amat kencang hingga aku merasa bebas.

Laksana harimau yang berlari bebas mengejar mangsanya. Bagaikan seekor kuda liar yang berlari bebas di tengah padang rumput savannah. Seperti kawanan burung yang terbang bebas di angkasa, mengarungi tujuh benua dan tujuh samudera.

Jiwaku bebas tak lagi terkungkung dalam raga yang membuatnya tak berdaya. Berlari-lari bebas hingga melayang-layang di angkasa. Mengikuti arus deras yang membawaku mengarungi alam pikiran, terbebas dari segala peraturan bernama kenyataan. Aku bebas berlari kesana kemari tanpa harus memikul beban dan tanggung jawab. Tak seorangpun yang mampu menghalangiku untuk bertindak sesuka hati.

“Seperti apa rasanya?”

“Kau tidak akan mengerti bila tidak kau coba sendiri.”

“Tapi itu hutan terlarang. Rasa-rasanya hanya kau satu-satunya manusia yang berani berlari menembus hutan belantara itu.”

“Lantas mengapa kau tak bisa seberani diriku? Bukankah kita sahabat sejati? Kau selalu merasakan apa yang kurasakan. Bersama kita menangis dan tertawa. Berdua kita mengarungi hari-hari penuh suka duka. Apa yang kulakukan juga kau lakukan. Bahkan kita pernah berjanji untuk selalu berjalan beriringan apapun yang terjadi. Kau hanya perlu berlari, kepakkan sayapmu dan keluarkan seluruh keberanianmu.”

“Kau memang sahabatku. Tapi akupun tidak bisa melanggar tradisi yang telah menyatu dalam darahku.”

“Tapi tradisi bukanlah Tuhan yang kita sembah. Ia tak memiliki kekuasaan yang mengharuskan umat manusia untuk mematuhinya.”

“Ini bukan soal kekuasaan. Aku berbicara mengenai kepercayaan. Aku percaya bahwa tradisi terlahir karena adanya pertanda-pertanda. Alam telah memberikan pertanda pada para leluhur kita bahwa hutan itu tidak bersahabat. Jadi apa salahnya bila aku mengikuti tradisi yang diciptakan untuk menyelamatkan diriku sendiri?”

“Aku tidak percaya bagaimana bisa kau masih mempercayai takhayul itu. Kenyataannya tidak satupun hal-hal buruk terjadi ketika aku melintasi hutan itu. Tradisi itu omong kosong belaka. Ia hanyalah aturan yang mengada-ada. Tradisi yang kau agung-agungkan itu adalah seutas tali yang menjerat manusia, memenjarakan mereka, menghalangi mereka dari kebebasan yang hakiki.”

“Betapa kasihan dirimu, sahabatku. Agaknya bicaramu kali ini sudah keterlaluan. Kau bicara dengan keangkuhan hati seolah-olah kau lebih tinggi dari Sang Pencipta. Percayalah hukum alam akan bertindak. Mungkin bukan saat ini, tapi entah kapan kau pasti akan mendapat balasannya. Lagipula sahabatku, bila yang kau anggap kebebasan adalah seperti yang kau katakan, kurasa kau belum mengerti makna dari kebebasan itu sendiri.”

Di suatu tempat di belahan bumi akan kutemukan rumah impian bagi para pemuja kebebasan. Mereka orang-orang yang dalam pembuluh darahnya mengalir deras kebebasan, keberanian, jiwa petualang abadi serta kontradiksi-kontradiksi.

Tempat impian itu tak mengenal segala macam peraturan. Di mana langit berwarna hijau, tanah berwarna biru, dedaunan berwarna ungu, air berwarna jingga dan kayu berwarna nila. Di mana siang menjadi gelap dan malam menjadi terang. Tempat itu tak mengenal aturan warna.

Di sana mentari terbit dari utara ke selatan. Di sana air mengalir dari hilir ke hulu. Di sana es terasa membakar dan api terasa sejuk. Di sana manusia tidak memerlukan jam, karena waktu bebas bergerak tanpa adanya aturan angka-angka yang tertera pada jam. Di sana manusia tidak mengenal musim, karena cuaca bebas berganti-ganti tanpa dapat diperkirakan. Tempat itu tak mengenal aturan berkedok rutinitas ataupun kebiasaan.

Di sana terkadang sehari kita lewati tanpa kehadiran sang mentari, malah terkadang sang mentari muncul tanpa memancarkan cahayanya. Air yang mengalir dari hilir ke hulu, terkadang diam tak mengalir sedikitpun. Terkadang dedaunan menolah untuk bergoyang ketika angin nakal mengempaskan raganya. Terkadang di sana gravitasi menolak untuk ada, membiarkan makhluk hidup terombang-ambing di angkasa. Di tempat impian itu, segalanya bebas memilih apa yang hendak dilakukannya, tanpa adanya peran dan tugas yang memaksa untuk dipatuhi.

Tempat impian itu bukan hanya mimpi. Tempat impian itu nyata adanya. Tidak perlu lagi aku mencarinya hingga ke ujung dunia, karena tempat impian itu ada tepat di sini. Berada sangat dekat bahkan berimpitan dengan jiwa ragaku. Di sinilah rupanya ia berada, tepat di titik aku berdiri saat ini, bersembunyi di sudut alam pikiranku.

Namun mengapa hanya aku yang mampu melihatnya? Seharusnya setiap pemuja kebebasan dapat melihat tempat itu pula. Tapi mereka tak seperti diriku yang mampu melihatnya dengan begitu jelas. Kini aku mengerti mengapa mereka terus mencari dan mencari hingga ke ujung dunia, tanpa pernah menyadari bahwa tempat impian itu selalu mengiringi mereka. Mereka mencari, mengasah pendengaran mereka, menajamkan penglihatan mereka, untuk mencari wujud yang konkret! Betapa bodohnya.

“Tunggulah, kelak aku pasti menemukannya.”

“Jika kau mengira masih harus menunggu, maka sesungguhnya kau belum mengerti. Bukan begitu caranya mencari, bukan begitu caranya mencium, bukan begitu caranya meraba, bukan begitu caranya mendengar dan bukan begitu caranya melihat.”

“Sejak kecil ibu telah mengajariku bagaimana menggunakan tangan, lidah, mata, hidung dan mulutku. Tak seorangpun yang perlu mengajariku semua itu lagi.”

“Kau belum benar-benar mengerti. Kau mengenal kelima alat inderamu untuk menjalankan panca indera dengan peran mereka masing-masing. Akan tetapi kau belum mengerti betul bahwa ada satu alat dalam dirimu yang dapat menjalankan sekaligus panca indera itu dengan sebaik-baiknya. Kau belum benar-benar mengenali segala yang ada dalam dirimu.”

“Selain Dia, hanya aku yang sanggup mengenali diriku sendiri dengan sebaik-baiknya.”

“Kau tidak lagi percaya padaku, sahabatku?”

“Maafkan aku, sahabat. Sekian lama kita berjalan bersama. Namun sayangnya, semakin jauh jarak yang kita tempuh bersama, semakin aku tak memahami apapun yang kau katakan. Mungkin hati dan pikiran kita tak lagi sejalan.”

“Berarti kita harus menyejajarkan kembali hati dan pikiran kita sebelum kita kembali menempuh perjalanan yang masih jauh.”

“Kurasa tidak akan mudah menarik kembali hati dan pikiran yang telah berjalan menyimpang terlalu jauh.”

“Jika begitu masalahnya, bersediakah kau mengikutiku berjalan menyimpang sebentar lalu kembali lagi ke jalur yang telah kita tetapkan, agar kita dapat selalu sejalan?”

“Apa kau sudah gila? Jalur telah ditetapkan untuk menjadi petunjuk agar kita tidak berjalan menyimpang.”

“Jadi mulai sekarang kau akan melanjutkan perjalanan seorang diri tanpaku?”

“Maaf. Namun sepertinya aku harus berkata ya.”

Terkadang seseorang tidak mengikutsertakan hati nurani dalam pencariannya. Terkadang seseorang bahkan tidak menyadari keberadaan hati nuraninya, karena bahkan ia tak mengenali dirinya sendiri.

Begitu banyak bintang di langit tepat melukiskan betapa banyaknya pertanyaan yang memenuhi labirin pikiranku. Hidup ini bagaikan segudang misteri. Sejauh apapun mata memandang, yang tampak hanyalah jutaan tanda tanya. Seringkali bahkan hampir selalu, pertanyaan itu harus cukup terpuaskan dengan jawaban yang selalu melahirkan jutaan tanda tanya lagi. Terkadang bahkan ada beberapa pertanyaan yang tidak akan terjawab. Titik seperti itu adalah titik batas yang menunjukkan bahwa tidak segalanya terjangkau oleh logika berpikir manusia. Namun sesungguhnya manusia memiliki alat dalam dirinya yang dapat menjelaskan pertanyaan apapun, yaitu hati nurani dengan kemampuannya untuk merasakan.

Mengapa kebanyakan orang tidak mengerti jalan pikiranku? Apakah labirin pikiranku terlampau rumit hingga tak seorangpun mampu melaluinya? Bukankah hati nurani telah mengajarkanku untuk percaya, tapi mengapa sosok yang paling kupercaya di dunia ini pergi meninggalkanku seorang diri hanyut dalam pusaran imajiku? Mungkinkah justru selama ini aku telah mengikuti arah yang keliru? Dan patutkah kini, bila aku mulai mempertanyakan kebenaran hati nurani yang selama ini kupatuhi dengan segenap jiwa raga?

Mataku terpejam. Membiarkan Yang Kuasa menuntunku. Dia tak menjawab satupun pertanyaanku, tapi Dia membiarkanku percaya. Cukup dengan percaya, hanya itu yang diinginkan-Nya. Aku percaya bahwa hati nurani, sama seperti-Nya, tidak akan pernah salah menuntun arah jalanku.

Mulai saat ini hanya kesunyian yang akan menemani perjalananku. Namun aku tak pernah gentar untuk terus berjalan menembus belantara ketakutan dan keraguan. Aku akan terus berjalan meski harus seorang diri menuju titik akhir yang tengah menanti kedatanganku. Bukan berarti aku kehilangan sosok sahabat sejati yang selalu menemani. Aku percaya bahwa kami hanya menempuh dua jalur yang berbeda untuk menuju titik akhir yang sama, yang telah kami tentukan sebelumnya.

Older Entries