Aku berlari. Aku berlari dan terus berlari sekencang-kencangnya. Aku berlomba-lomba dengan embusan angin dan putaran waktu. Aku terus berlari menembus belantara hutan, tak menghiraukan bumi yang mungkin merintih kesakitan karena pijakanku yang amat menekan, tak lagi mendengarkan nyanyian riang burung-burung yang mengiringiku. Aku berlari amat kencang hingga kurasa kakiku tak lagi berpijak ke bumi. Aku berlari amat kencang hingga nyaris tak lagi merasakan gravitasi yang selalu menarikku jatuh dan memberi berat pada tubuhku. Aku berlari amat kencang hingga aku merasa bebas.

Laksana harimau yang berlari bebas mengejar mangsanya. Bagaikan seekor kuda liar yang berlari bebas di tengah padang rumput savannah. Seperti kawanan burung yang terbang bebas di angkasa, mengarungi tujuh benua dan tujuh samudera.

Jiwaku bebas tak lagi terkungkung dalam raga yang membuatnya tak berdaya. Berlari-lari bebas hingga melayang-layang di angkasa. Mengikuti arus deras yang membawaku mengarungi alam pikiran, terbebas dari segala peraturan bernama kenyataan. Aku bebas berlari kesana kemari tanpa harus memikul beban dan tanggung jawab. Tak seorangpun yang mampu menghalangiku untuk bertindak sesuka hati.

“Seperti apa rasanya?”

“Kau tidak akan mengerti bila tidak kau coba sendiri.”

“Tapi itu hutan terlarang. Rasa-rasanya hanya kau satu-satunya manusia yang berani berlari menembus hutan belantara itu.”

“Lantas mengapa kau tak bisa seberani diriku? Bukankah kita sahabat sejati? Kau selalu merasakan apa yang kurasakan. Bersama kita menangis dan tertawa. Berdua kita mengarungi hari-hari penuh suka duka. Apa yang kulakukan juga kau lakukan. Bahkan kita pernah berjanji untuk selalu berjalan beriringan apapun yang terjadi. Kau hanya perlu berlari, kepakkan sayapmu dan keluarkan seluruh keberanianmu.”

“Kau memang sahabatku. Tapi akupun tidak bisa melanggar tradisi yang telah menyatu dalam darahku.”

“Tapi tradisi bukanlah Tuhan yang kita sembah. Ia tak memiliki kekuasaan yang mengharuskan umat manusia untuk mematuhinya.”

“Ini bukan soal kekuasaan. Aku berbicara mengenai kepercayaan. Aku percaya bahwa tradisi terlahir karena adanya pertanda-pertanda. Alam telah memberikan pertanda pada para leluhur kita bahwa hutan itu tidak bersahabat. Jadi apa salahnya bila aku mengikuti tradisi yang diciptakan untuk menyelamatkan diriku sendiri?”

“Aku tidak percaya bagaimana bisa kau masih mempercayai takhayul itu. Kenyataannya tidak satupun hal-hal buruk terjadi ketika aku melintasi hutan itu. Tradisi itu omong kosong belaka. Ia hanyalah aturan yang mengada-ada. Tradisi yang kau agung-agungkan itu adalah seutas tali yang menjerat manusia, memenjarakan mereka, menghalangi mereka dari kebebasan yang hakiki.”

“Betapa kasihan dirimu, sahabatku. Agaknya bicaramu kali ini sudah keterlaluan. Kau bicara dengan keangkuhan hati seolah-olah kau lebih tinggi dari Sang Pencipta. Percayalah hukum alam akan bertindak. Mungkin bukan saat ini, tapi entah kapan kau pasti akan mendapat balasannya. Lagipula sahabatku, bila yang kau anggap kebebasan adalah seperti yang kau katakan, kurasa kau belum mengerti makna dari kebebasan itu sendiri.”

Di suatu tempat di belahan bumi akan kutemukan rumah impian bagi para pemuja kebebasan. Mereka orang-orang yang dalam pembuluh darahnya mengalir deras kebebasan, keberanian, jiwa petualang abadi serta kontradiksi-kontradiksi.

Tempat impian itu tak mengenal segala macam peraturan. Di mana langit berwarna hijau, tanah berwarna biru, dedaunan berwarna ungu, air berwarna jingga dan kayu berwarna nila. Di mana siang menjadi gelap dan malam menjadi terang. Tempat itu tak mengenal aturan warna.

Di sana mentari terbit dari utara ke selatan. Di sana air mengalir dari hilir ke hulu. Di sana es terasa membakar dan api terasa sejuk. Di sana manusia tidak memerlukan jam, karena waktu bebas bergerak tanpa adanya aturan angka-angka yang tertera pada jam. Di sana manusia tidak mengenal musim, karena cuaca bebas berganti-ganti tanpa dapat diperkirakan. Tempat itu tak mengenal aturan berkedok rutinitas ataupun kebiasaan.

Di sana terkadang sehari kita lewati tanpa kehadiran sang mentari, malah terkadang sang mentari muncul tanpa memancarkan cahayanya. Air yang mengalir dari hilir ke hulu, terkadang diam tak mengalir sedikitpun. Terkadang dedaunan menolah untuk bergoyang ketika angin nakal mengempaskan raganya. Terkadang di sana gravitasi menolak untuk ada, membiarkan makhluk hidup terombang-ambing di angkasa. Di tempat impian itu, segalanya bebas memilih apa yang hendak dilakukannya, tanpa adanya peran dan tugas yang memaksa untuk dipatuhi.

Tempat impian itu bukan hanya mimpi. Tempat impian itu nyata adanya. Tidak perlu lagi aku mencarinya hingga ke ujung dunia, karena tempat impian itu ada tepat di sini. Berada sangat dekat bahkan berimpitan dengan jiwa ragaku. Di sinilah rupanya ia berada, tepat di titik aku berdiri saat ini, bersembunyi di sudut alam pikiranku.

Namun mengapa hanya aku yang mampu melihatnya? Seharusnya setiap pemuja kebebasan dapat melihat tempat itu pula. Tapi mereka tak seperti diriku yang mampu melihatnya dengan begitu jelas. Kini aku mengerti mengapa mereka terus mencari dan mencari hingga ke ujung dunia, tanpa pernah menyadari bahwa tempat impian itu selalu mengiringi mereka. Mereka mencari, mengasah pendengaran mereka, menajamkan penglihatan mereka, untuk mencari wujud yang konkret! Betapa bodohnya.

“Tunggulah, kelak aku pasti menemukannya.”

“Jika kau mengira masih harus menunggu, maka sesungguhnya kau belum mengerti. Bukan begitu caranya mencari, bukan begitu caranya mencium, bukan begitu caranya meraba, bukan begitu caranya mendengar dan bukan begitu caranya melihat.”

“Sejak kecil ibu telah mengajariku bagaimana menggunakan tangan, lidah, mata, hidung dan mulutku. Tak seorangpun yang perlu mengajariku semua itu lagi.”

“Kau belum benar-benar mengerti. Kau mengenal kelima alat inderamu untuk menjalankan panca indera dengan peran mereka masing-masing. Akan tetapi kau belum mengerti betul bahwa ada satu alat dalam dirimu yang dapat menjalankan sekaligus panca indera itu dengan sebaik-baiknya. Kau belum benar-benar mengenali segala yang ada dalam dirimu.”

“Selain Dia, hanya aku yang sanggup mengenali diriku sendiri dengan sebaik-baiknya.”

“Kau tidak lagi percaya padaku, sahabatku?”

“Maafkan aku, sahabat. Sekian lama kita berjalan bersama. Namun sayangnya, semakin jauh jarak yang kita tempuh bersama, semakin aku tak memahami apapun yang kau katakan. Mungkin hati dan pikiran kita tak lagi sejalan.”

“Berarti kita harus menyejajarkan kembali hati dan pikiran kita sebelum kita kembali menempuh perjalanan yang masih jauh.”

“Kurasa tidak akan mudah menarik kembali hati dan pikiran yang telah berjalan menyimpang terlalu jauh.”

“Jika begitu masalahnya, bersediakah kau mengikutiku berjalan menyimpang sebentar lalu kembali lagi ke jalur yang telah kita tetapkan, agar kita dapat selalu sejalan?”

“Apa kau sudah gila? Jalur telah ditetapkan untuk menjadi petunjuk agar kita tidak berjalan menyimpang.”

“Jadi mulai sekarang kau akan melanjutkan perjalanan seorang diri tanpaku?”

“Maaf. Namun sepertinya aku harus berkata ya.”

Terkadang seseorang tidak mengikutsertakan hati nurani dalam pencariannya. Terkadang seseorang bahkan tidak menyadari keberadaan hati nuraninya, karena bahkan ia tak mengenali dirinya sendiri.

Begitu banyak bintang di langit tepat melukiskan betapa banyaknya pertanyaan yang memenuhi labirin pikiranku. Hidup ini bagaikan segudang misteri. Sejauh apapun mata memandang, yang tampak hanyalah jutaan tanda tanya. Seringkali bahkan hampir selalu, pertanyaan itu harus cukup terpuaskan dengan jawaban yang selalu melahirkan jutaan tanda tanya lagi. Terkadang bahkan ada beberapa pertanyaan yang tidak akan terjawab. Titik seperti itu adalah titik batas yang menunjukkan bahwa tidak segalanya terjangkau oleh logika berpikir manusia. Namun sesungguhnya manusia memiliki alat dalam dirinya yang dapat menjelaskan pertanyaan apapun, yaitu hati nurani dengan kemampuannya untuk merasakan.

Mengapa kebanyakan orang tidak mengerti jalan pikiranku? Apakah labirin pikiranku terlampau rumit hingga tak seorangpun mampu melaluinya? Bukankah hati nurani telah mengajarkanku untuk percaya, tapi mengapa sosok yang paling kupercaya di dunia ini pergi meninggalkanku seorang diri hanyut dalam pusaran imajiku? Mungkinkah justru selama ini aku telah mengikuti arah yang keliru? Dan patutkah kini, bila aku mulai mempertanyakan kebenaran hati nurani yang selama ini kupatuhi dengan segenap jiwa raga?

Mataku terpejam. Membiarkan Yang Kuasa menuntunku. Dia tak menjawab satupun pertanyaanku, tapi Dia membiarkanku percaya. Cukup dengan percaya, hanya itu yang diinginkan-Nya. Aku percaya bahwa hati nurani, sama seperti-Nya, tidak akan pernah salah menuntun arah jalanku.

Mulai saat ini hanya kesunyian yang akan menemani perjalananku. Namun aku tak pernah gentar untuk terus berjalan menembus belantara ketakutan dan keraguan. Aku akan terus berjalan meski harus seorang diri menuju titik akhir yang tengah menanti kedatanganku. Bukan berarti aku kehilangan sosok sahabat sejati yang selalu menemani. Aku percaya bahwa kami hanya menempuh dua jalur yang berbeda untuk menuju titik akhir yang sama, yang telah kami tentukan sebelumnya.