(Annabel)

            “Raph, coba tebak apa yang kubawakan hari ini?” Raphael hanya tergeleng lemah di ranjangnya. Semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. “Tadaaa…this is a special gift for you.” Kuberikan padanya sebuah buku bersampul putih berjudul Little Heaven. Raphael tersenyum puas.

            “Ini…ini kado…terindah seumur…hidupku,” ujarnya terbata-bata, sementara aku sekuat tenaga menahan air mata yang memaksa turun.

            “Aku bisa membacakannya setiap hari beberapa lembar untukmu.”

            Raphael menggeleng sekali lagi, “Tidak perlu. Mungkin…tidak akan…sempat. Tapi sebenarnya…kamu…terlambat. Aku sudah…tahu…ceritanya…sejak dulu…” kata-katanya tak membuatku terkejut. Ternyata tebakanku benar bahwa Raphael yang mengirimkan naskah itu.

            “Terima kasih Raph, terima kasih atas segala sesuatu yang telah kau lakukan untukku. Nah, sekarang tidurlah. Aku tahu kamu lelah,” kurapikan selimut yang membalut tubuhnya yang mengecil seperti bayi itu. Perlahan matanya terpejam. “I love you, my little heaven.”

            “Love you…too,” ujarnya dengan mata terpejam. Jika dulu ia yang senantiasa mengecup keningku, kini giliranku untuk melakukannya.

            Setelah Raphael tertidur pulas, aku beranjak menuju meja kerjanya dan duduk di sana. Sejak seminggu yang lalu Raphael bersikeras untuk pulang. Ia sudah muak dengan suasana rumah sakit. Kuperhatikan sekeliling kamar bernuansa coklat ini. Benar kata Raphael, warna coklat selalu memberi kehangatan tersendiri. Apalagi saat ini. Aku merasa melebur dengan kehangatan bersama Raphael sepenuhnya. Kini tak ada lagi rasa bersalah pada Farhan. Aku merasa bebas. Bagai burung yang terbang tanpa pengawasan.

            Kuperhatikan rak-rak buku yang menghiasi kamar Raphael. Aku mengenali salah satu buku yang turut berdiri anggun di tengah barisan buku-buku mengenai musik itu. Buku harian milik Raphael. Sejak dulu aku ingin sekali membuka buku ini, tapi tak pernah ada kesempatan, karena Raphael selalu malu jika buku hariannya dibaca orang lain.

            Tulisan Raphael yang bagaikan cakar ayam itu memenuhi lembar demi lembarnya. Tulisan tangan yang tak pernah berubah sejak kecil. Berbagai pemikiran Raphael megenai musik terpapar jelas di sana. Aku tahu ia mencintai musik, tapi tak pernah menyangka sebegitu besar kecintaannya pada musik.

 

Diary,

            Jika ada hal lain yang kupuja di dunia ini di bawah kecintaanku pada Sang Pencipta, maka itulah gambaran kecintaanku pada musik. Aku tak mengerti bagaimana caranya seseorang bertahan hidup tanpa musik. Omong kosong bila ada orang yang mengatakan bahwa ia tak menyukai musik. Aku berani bertaruh bahwa tak ada orang yang dapat menahan hasrat tubuhnya untuk bergoyang dan bergumam ketika mendengar alunan nada-nada nan indah.

            Terlebih diriku. Music just like painting what inside me. Music is my soul and be a pianist is my dream. Aku takkan membiarkan segala sesuatu menghalangi kecintaanku ini. Mungkin ini juga yang membuatku berani mengambil resiko sebesar ini. Aku lebih baik meninggalkan keluargaku, daripada meninggalkan impianku untuk terus bermain piano sepanjang aku masih mampu bernafas…

 

Ada cerita mengenai cinta pertamanya, yaitu aku. Tersipu aku membaca segala pujiannya tentang diriku. Hanya Raphael yang memandangku berbeda dari orang lain. Mungkin jika aku tak pernah mengenalnya, aku akan selalu menjadi pribadi yang lemah dan selalu pesimis.

 

Diary,

Kalau saja dia bertanya sejak kapan aku mulai menganggapnya ‘seseorang’ yang berbeda di hatiku, maka jawabannya adalah ketika aku pertama kali melihat seorang bocah perempuan yang kabur dari mobil ayahnya hanya untuk membolos sekolah. Saat itu aku menganggapnya sebagai orang aneh. Haha…di saat orang lain berharap untuk dapat bersekolah, dia malah ingin bolos sekolah. Dan saat itu seorang bocah perempuan telah mengajarkanku satu hal yang sangat penting, bahwa tidak semua orang memiliki sudut pandang yang sama denganku. Maka aku tak boleh memaksakan kehendakku pada orang lain. Terima kasih ya, hai gadis unikku.

Mau dengar sesuatu yang lebih baik? Ya, sebenarnya kamu teramat sangat cantik di mataku. Kamu hanya perlu merubah sikap pesimis itu, maka kamu akan menjadi sosok perempuan yang sempurna di mataku dan di mata orang lain.

 

Dan ada satu tulisan di lembar terakhir. Dari tanggalnya aku tahu bahwa ia menulisnya baru-baru ini. Sekitar sebulan yang lalu.

 

Dear Diary,

Untuk pertama kali dalam hidup ini aku merasa iri dengan kehidupan orang lain. Ini jelas bukanlah seorang Andrea Raphael yang selama ini kukenal. Aku tahu bahwa dalam hidup ini tiap orang memiliki porsinya masing-masing. Dan akupun tahu bahwa aku telah memiliki kehidupan yang luar biasa indah, lebih dari sempurna. Tapi entahlah, mengapa saat ini aku merasa iri dengan orang-orang di luar sana yang masih bisa memandang masa depan mereka dengan optimis.

            Ini hal yang manusiawi. Ketika seseorang hendak menuju ke sesuatu yang baru, hal-hal yang lamapun mendadak akan datang silih berganti memenuhi memori. Seperti yang kualami saat ini. Ketika aku hendak menuju ke kehidupan yang baru, aku mulai melihat kembali ke belakang.

            When we talk about yesterday, there was so much I can tell you. Ketika aku menengok ke belakang, kulihat sosok lelaki gagah nan rupawan yang diidolakan kaum hawa. Ya, itulah aku, sebelum aku yang sekarang dengan tubuh ringkih tak berdaya. Alangkah bahagia masa-masa di mana aku masih sanggup duduk dan bermain piano sesuka hati. Tuhan, aku ingin bisa berlari mengejar bus seperti dulu lagi. Aku rindu berjalan-jalan menghirup udara segar di luar sana, menyaksikan bunga-bunga bermekaran di musim semi bersama orang-orang tercinta.

            When we talk about yesterday, there was a lot of memories. Hidup adalah rangkaian dari potongan-potongan puzzle. Tak terasa mungkin sebentar lagi aku akan menyelesaikan puzzleku. Ketika melihat kembali ke serpihan-serpihan itu, ada banyak kisah di sana. Oh, betapa aku pernah tidur beralaskan koran di bawah jembatan, aku pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga terbaik satu-satunya yang kumiliki. Aku memiliki seorang sahabat yang senantiasa menemani hingga akhir hayatku. Aku pernah mengalami banyak kegagalan sebelum menemui satu keberhasilan, ketika dunia akhirnya mengukir namaku dalam sejarahnya. Rasanya tak percaya semua itu telah kulalui. Tapi mengapa masa lalu harus berlalu?

            When we talk about yesterday, it was the greatest time of my life. Satu lagi hebatnya masa lalu. Kapan lagi aku bisa merayakan ulang tahunku? Andaikan doraemon tak hanya robot fiksi, tentu aku akan pergi ke masa lalu menggunakan mesin waktunya. Hahaha… Alangkah bahagianya…

Dear diary, kurasa ini kali terakhir aku menyentuhmu. Maaf bila kita harus berpisah lebih cepat dari yang pernah kita pikirkan. Aku pasti akan sangat merindukan segalanya. Selamat jalan semuanya, sampai jumpa di lain kesempatan.

               

            Kututup buku harian milik lelaki yang kini tengah tergolek lemah di hadapanku. Setiap kali aku melihat matanya terpejam, aku selalu takut bila lelaki itu mungkin saja tidak akan membuka matanya lagi. Aku belum siap untuk menutup fase kehidupanku bersamanya.