Masa kanak-kanak
Adalah suatu masa dimana
Imajinasi bebas berkelana
Tak tentu arah kian kemari
Angin malam membawanya terbang
Menyusuri lautan luas
Hinggap bermalam di puncak gunung
Ada kalanya ia hanyut
Dalam derasnya arus
Imajinasiku bebas berkelana
Hingga ke ujung dunia
Di masa kanak-kanak

Ingin jadi penulis. Impian ini telah ada sejak kelas 3 SD. Tapi ada yang berubah seiring jalannya waktu. Dulu aku hanya ingin menulis, tak ada niat menerbitkannya. Dulu aku hanya ingin memperlihatkan tulisanku agar orang lain terhibur. Tapi kini berbeda. Aku tetap ingin menghibur orang lain, tapi kini tujuan utama adalah uang dan popularitas. Aku tergiur oleh besarnya royalti dan ketenaran. Apalagi jika bukuku menjadi best seller dan difilmkan seperti halnya Raditya Dika, Andrea Hirata bahkan JK Rowling, siapa yang tidak kenal?
Inikah yang terjadi pada tiap orang yang beranjak meninggalkan masa kanak-kanaknya? Otak mereka telah dicuci seutuhnya, pola pikir merekapun berubah keduniawian. Kemana perginya hati nurani? Kedewasaan juga kerap membuat kita pesimis dan merasa kecil. Membuat kita memandang bahwa dunia ini begitu kejam dan berpikir bahwa kita harus bersaing begitu ketat, bahkan menghalalkan segala carapun boleh demi menaklukkan dunia. Padahal kita tak harus menaklukkan dunia, melainkan bersahabat dengannya.
Tidakkah kita berpikir bahwa malaikat-malaikat kecil menangis saat kita beranjak dewasa? Mereka kehilangan teman sejati yang tulus, lugu dan penuh imajinasi. Mengapa begitu cepat kita berubah menjadi pribadi yang angkuh dan datar? Bukankah pribadi yang penuh imajinasi jauh lebih menyenangkan?

Tak ada angin tak ada hujan, pagi ini aku teringat masa kecilku. Kelas 3 SD adalah saat giat-giatnya aku menulis. Saat itu aku senang menulis fabel. Bagiku penguin yang berbicara, semut sang superhero dan bangau yang bijak adalah hal termenakjubkan. Buku pertamaku berjudul “Desa Snow River”, tebal 37 halaman, berkisah tentang rombongan hewan yang tersesat di negeri antah-berantah dan perjuangan mereka kembali ke desanya.
Aku juga senang menulis kisah petualangan. Itu adalah tema yang seru nan mendebarkan. Akupun kerap menulis cerita yang berhubungan dengan magic(terinspirasi Harry Potter). Saat tengah menulis, aku bagai berkelana ke negeri antah-berantah dalam tulisanku.
Tak hanya cerita, akupun menulis puisi dan pantun. Meski saat itu aku belum mengenal diksi ataupun majas. Aku juga seorang komikius meski gambarku ‘agak jelek’.”Alent da Kehidupan Sehari-Harinya”, salah satu serial komik komediku. Alangkah bahagia tak terlukiskan saat kakakku berkata bahwa komikku lucu. Perkataannya itu memperkuat keyakinanku dan memotivasiku untuk terus berkarya. Aku juga membuat naskah drama. Mungkin saat itu aku ingin menjadi Shakespeare dengan Romeo and Julietnya atau JM Barrie dengan Petualangan Peterpannya. Hmm, rasanya aku ini penulis multifungsi ya?:D
Kumpulan tulisanku itu terangkum menjadi satu dalam sebuah buku tebal yang kusebut “Buku Kumpulan Cerita”, di covernya tertera tulisan “Jangan Dibaca!” karena aku begitu pemalu jika tulisanku dibaca orang lain. Buku itulah arsip yang menyimpan beribu kenangan masa kecilku. Ialah saksi bisu dari suka dukaku menulis di masa kanak-kanak. Beberapa tahun silam saat aku membersihkan gudang, kutemukan buku itu tersimpan rapi dalam kardus. Semua masih sama, hanya permukaannya terselimuti debu.
Kubuka lembar demi lembarnya. Kertas dan tintanya mulai menguning dimakan waktu. Kisah-kisah masa kecil nan konyol, yang mampu membuatku tertawa. Benar kata orang bahwa anak-anak selalu tertawa bila mendengar hal-hal lucu, meski itu adalah humor khas orang dewasa. Ah, aku rindu saat-saat itu.
Sebenarnya aku ingin menyimpan buku itu di laci meja belajar. Tapi esok harinya saat aku kembali ke gudang, buku itu sudah tak ada. Aku berharap Ayah tidak memberikannya ke tukang loak. Semoga buku itu masih tersimpan rapi di suatu tempat di rumahku, entah dimana. Semoga buku itu tidak hilang karena ia menyimpan berjuta kenangan masa kanak-kanakku. The magic of childhood.